Laman

Minggu, 10 Februari 2013

[FF] Hexagonal Part 2

tulisan-tulisan dibawah hanya sebatas kemampuan saya, tidak ada yang begitu istimewa. tapi saya sudah berusaha keras untuk membuatnya menjadi sesuatu. keke. dan maaf jika tidak begitu menarik.

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------
KiKwang sibuk memimpin rapat diperusahaannya. Masalah tentang penjualan belum juga teratasi. Pendapatannya tak kunjung mengalami kenaikan. Tidak mudah memang menjadi seorang pemimpin di perusahaan besar. Dia harus menyelesaikan masalah ini, banyak nasib yang tergantung padanya.
“bagaimana dengan LD? Apakah mereka sama seperti kita?” tanyanya kepada karyawan-karyawannya yang juga dibuat gila akibat krisis ini.
LD adalah perusahaan milik Donghae yang bergerak dibidang sama sepertinya, kosmetik. Sudah sejak lama LD dan LK menjadi saingan berat, perusahaan mereka perusahaan kelas atas diKorea. Hampir seluruh pasar kosmetik di Korea mereka kuasai.
Keduanya kini mengalami masalah yang sama. Krisis di Eropa penyebabnya. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir. Entah apa yang akan terjadi jika krisis ini tak kunjung selesai. Bagaimanapun pria itu harus mencari cara apapun agar masalah ini dapat segera diatasi.
                                                            **
“bagaimana dengan perusahaanmu?” tanya Kikwang pada Yoona yang baru pulang. Nampak sekali wajah lelah dari gadis itu. Sungguh pria itu tidak dapat membaca situasi sama sekali.
“kenapa kau ingin tahu? Itu bukan urusanmu!” jawab Yoona jutek. Gadis itu tergeletak lemas di sofa ruang tengah rumahnya yang juga diduduki oleh Kikwang.
“hey! Kenapa kau tak pernah memperlakukanku dengan baik? Tak bisakah kau memperlakukan tamumu dengan manis? Dengan penuh sopan santun?”
            “bisa, tapi aku orangnya pemilih, tidak semua orang mampu menerima perlakuan baikku. Karena tidak semua orang memperlakukanku dengan baik. Bagaimana bisa aku memperlakukanmu dengan baik sementara kau memperlakukanku dengan sangat buruk”
“hey! Kapan aku bersikap buruk padamu? Aku selalu berusaha bersikap baik padamu, tapi kau tak pernah menerimanya dan membalasku dengan perlakuan dinginmu padaku”
“ah tak pernah?” Yoona tersenyum dengan makna penghinaan “kau tahu kau sudah mengganggu hidupku akibat kedatanganmu. Aku sangat terganggu dengan adanya kau disini. Aku tak suka kau ada disini. Kau tahu itu?”
“kau pikir aku mau disini! Ini permintaan ibuku! Jika bukan karena ibuku aku juga tak sudi tinggal di rumah orang sepertimu. Yang tidak bisa berbaik hati kepada orang lain. bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini? betapa malangnya orang-orang yang hidup disekitarmu”
“hey! Jaga mulutmu itu! Kau tak tau apa-apa tentangku! Tak usah mengomentari tentang kehidupanku, urus saja kehidupanmu sendiri. lagi pula sepertinya hidupmu juga tak terlalu baik. Bagaimana bisa diumurmu yang sebesar ini masih saja diatur oleh ibumu. Setidaknya kau bisa menolak saat ibumu menyurumu tinggal disini”
“dan kau tidak usah berkomentar tentang ibuku! Kau tak tau apa-apa tentangnya! terserah kau sajalah. Aku lelah” KiKwang meninggalkan Yoona, hatinya sakit akibat ocehan Yoona yang menurutnya keterlaluan. Disisi lain Yoona masih tenang di tempatnya, tak ada perasaan bersalah.
Sepertinya hari inilah pertengkaran terbesar keduanya.

Pertengkaran! Tiada hari tanpa pertengkaran untuk mereka berdua. Sudah  beberapa minggu Kikwang tinggal di rumah itu. Masih saja dia tak nyaman dengan rumah itu, bukan karna rumahnya tapi karena pemiliknya yang memperlakukannya dengan buruk. Sejak kejadian malam itu mereka tak pernah berbicara satu sama lain.
Beberapa hari ini Kikwang tak pulang ke rumah, ada perasaan khawatir dibenak Yoona. Yoona tak sekejam itu. Sudah terhitung tujuh hari semenjak kepergian Kikwang. Dia ingin mencari tahu dimana pria itu berada. Bahkan nomor ponsel pria itu saja dia tak tahu, lalu bagaimana....
Terdengar suara mobil memasuki rumah itu, Yoona berlari ringan untuk melihat siapa yang datang. Terlihat mobil berwarna hitam yang tak asing untuknya. Pria yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan dirinya. Kikwang datang.
Kikwang memasuki rumah itu, mulut Yoona bergerak begitu saja. Dia berbicara dengan Kikwang. Menanyakan keadaan Kikwang, pergi kemana saja laki-laki itu untuk beberapa hari terakhir. Sepertinya gadis itu sudah melupakan pertengkaran beberapa hari lalu. Kikwang nampak heran melihat gadis itu yang nampak berbeda dengan dengan beberapa hari yang lalu.
Yoona langsung tertunduk malu menyadari kebodohannya, sedangkan Kikwang tersenyum senang melihat perubahan gadis itu.
“maaf jika membuatmu khawatir. Kemarin adalah 1 tahun kematian ibuku, aku harus mengunjungi makamnya” Yoona nampak terkejut dengan jawaban Kikwang.
“jadi kau tak bisa menolak permintaan itu karena..”
“benar” Kikwang memotong perkataan Yoona. Kikwang memperlihatkan senyumnya yang manis, untuk sesaat senyum itu mampu membuat Yoona sedikit menghilangkan rasa bersalahnya akibat ocehannya tempo hari.
“maafkan aku, aku tak tau” Yoona tertunduk, dia merasa sangat bersalah “dan aku juga mau meminta maaf atas perlakuan burukku selama ini. Aku sungguh tidak dewasa sama sekali. Bagaimana bisa diumurku yang sudah sebesar ini aku bersikap seperti anak kecil”
“tak papa, aku tahu tak mudah menerima orang asing” mereka tersenyum bersamaan.
Yoona memasakkan makanan untuk Kikwang. Ini adalah kali pertama Yoona memasakkan makanan untuk Kikwang, selama ini memang Yoona memasakkan Kikwang makanan tapi bukan ditujukan. Yoona hanya memasak seperti untuknya hanya saja bahan-bahannya lebih banyak dari pada biasanya.
Kikwang memakan makanan itu dengan sangat lahap, tak ada bumbu spesial hari itu, tapi rasanya begitu spesial untuk Kikwang. Hatinya sangat senang hari ini.
**
Hari Senin sudah datang. Banyak pekerjaan yang menanti. Hubungan Yoona dan Kikwang semakin baik, mereka menjadi sangat akrab. Yoona sudah merasa nyaman ketika berada didekat Kikwang, begitu pula sebaliknya. Hari ini Kikwang mengantar Yoona bekerja.
Sepasang mata menatap kejadian itu dengan kesal, ada perasaan tak rela dihatinya. Dia langsung menghampiri gadis yang masih dicintainya sampai sekarang itu. Dia menatap pria di sebelah gadisnya itu dengan tatapan ingin mengjarnya.
Donghae menarik tangan Yoona, Kikwang terkejut dengan kejadian itu. Dia lantas turun dan mengejar Donghae.
Tangan kuat Kikwang menarik tangan Donghae yang memegang pergelangan Yoona, Yoona nampak terkejut. Banyak mata yang mengawasi mereka. Donghae dan Kikwang bukanlah orang sembarangan, mereka petinggi dari perusahaan besar. Bisa-bisa hal ini bisa menyebabkan masalah.
Yoona berusaha menyadarkan mereka berdua yang kini sedang beradu pandangan. Mereka menyadari kebodohan yang mereka lakukan. Kikwang pergi dari tempat itu dengan perasaan marah dihatinya. Bagaimanapun juga ini adalah wilayah  Donghae. Sedangkan Donghae merasa sangat puas karena merasa menang atas kepergian Kikwang.
Donghae menarik Yoona dan membawa gadis itu keatap gedung. Tak ada siapapun disana, hanya mereka.
“kenapa kau bisa bersamanya?” tanya Donghae.
“sepertinya itu bukan urusanmu” jawab Yoona dengan sangat enteng. Gadis itu sangat pintar membuat orang menjadi kesal sepertinya.  “sekarang kau bukan siapa-siapa, kau tak berhak menanyakan hal itu tuan”
“mungkin kau menganggapku bukan siapa-siapa, tapi untukku kau masih orang yang spesial. Kaulah orang yang mengisi hatiku sampai sekarang. tak ada yang mampu menggantikanmu sampai sekarang”
“ah benarkah? Betapa manisnya kata-kata tuan. tapi sayang perlakuan tuan tak semanis kata-kata tuan. Seandainya perlakuan anda semanis perkataan anda. Tentu ini semua tidak akan pernah terjadi” Yoona seolah-seolah menaruh simpati sekaligus menaruh racun disetiap perkataan yang keluar dari mulutnya “bukankah dulu tuan yang mengakhiri semuanya? Apakah tuan sudah lupa? Bukankah tuan memiliki otak yang cerdas? Bagaimana hal itu sanggup tuan lupakan? Saya saja masih dengan mudah mengingat semuanya. Semuanya!” Yoona mengatakannya dengan sangat baik, perkataan itu mampu menusuk hati Donghae. Yoona pergi meninggalkan Donghae yang masih terpaku ditempatnya.
Yoona menoleh dan berbalik arah.
“ah iya aku lupa tuan, apakah tuan masih ingat tentang pelajaran fisika yang tuan terima dulu? Hukum Aksi Reaksi! Setiap perbuatan pasti ada balasannya, sekecil apapun itu! Dan reaksinya juga akan sebanding dengan aksinya. Apa yang tuan lakukan dulu pasti akan mendapat balasannya, mungkin sekarang atau besok pasti akan menerimanya. Ah kenapa dunia ini begitu kejam tapi ini sangat menyenangkan. Aku sangat menikmati hukum alam itu. Ah indahnya hari ini. Sepertinya aku harus kembali bekerja tuan tak baik terlalu lama meninggalkan mejaku, aku disini untuk bekerja bukan untuk bermain. Selamat pagi tuan.  oh ya tuan jangan lama-lama disini ya, tak baik untuk kesehatan tuan. Di sini cukup dingin”
Donghae terdiam ditempatnya, dia tak percaya gadis itu bisa sangat berubah. Gadis itu dulu sangat polos dan tutur katanya mampu menyejukkan hatinya tapi kini tutur kata gadis itu mampu melukai hatinya. Apakah itu semua karenanya? Karena luka yang digoreskannya kepada gadis itu? Apakah luka itu begitu dalam sehingga membuat orang yang begitu hangat berubah menjadi sangat dingin?
 Dia masih mampu mengingat kejadian 5 tahun yang lalu, dimana dia mengakhiri hubungannya  dengan Yoona. Bahkan dia mengakhiri semua itu hanya dengan mengirim SMS, dia tak tau betapa sakit hati Yoona saat itu, gadis itu sangat mencintainya.
Donghae mengakhiri hubungannya dengan Yoona hanya karena dia merasa dia tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh yang begitu menyiksa dengan Yoona. Cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi, hanya waktunya saja. Dan juga, Donghae mendengar semenjak kepergiannya, Yoona menjadi sangat dekat dengan teman laki-lakinya.
Yah seperti bunyi hukum aksi reaksi, ada aksi pasti ada reaksi. Inilah yang diterima Donghae, dulu dia mencampakan Yoona dan membuat gadis itu terluka, kini dia yang harus merasakan luka itu. Adil memang.

**
“Ketika 2 sahabat menjadi kekasih itu sebuah ketulusan. Ketika 2 mantan kekasih menjadi sahabat itu sebuah kedewasaan” kata-kata itu terlontar saja dari mulut Kikwang yang mendapati Yoona terdiam dengan pikiran kosong. Pria itu mengerti apa yang dipikirkan gadis itu. Donghae! Dia dengan jelas dapat melihatnya. Kikwang sudah mengetahui semua perihal hubungan Yoona dan Donghae
Yoona tersenyum lalu menjelaskan perasaanya. Entah kenapa dia merasa nyaman saat berkeluh - kesah dengan Kikwang.
“aku tidak mau perasaanku kembali kacau karenanya. Aku  sungguh membencinya,  hal itu hanya akan membuat lubang dihatiku yang kini sedikit tertutup akan kembali menganga. Emosi yang kini sudah padam pada akhirnya akan kembali berkobar. Aku  tak ingin merasakan sakit itu! Tak ingin! Kau tahu butuh berapa lama aku keluar dari rumah setelah berpisah darinya? 1 bulan! Selama berminggu-minggu aku menangis karenanya, aku sakit karenanya! Tapi apa dia tahu penderitaanku? Apa dia tahu sakit yang aku rasakan? Dia tak tahu apa-apa.
Aku juga kehilangan kepercayaan kepada semua orang karena dia. Kau tahu alasan utamaku sangat membencimu saat kau datang pertama kali kesini? Karena traumaku padanya. Dulu aku orang yang sangat mudah percaya dan menyayangi orang lain tapi semenjak kejadian itu semuanya berubah, untuk mempercayai orang lain begitu sulit dan apalagi untuk menyayangi dan menaruh perhatian pada orang lain. yang ada hanyalah rasa benci. Entah kenapa aku tidak menyukai diriku yang sekarang.
Aku ingin menjadi seperti diriku yang dulu yang mudah mempercayai orang lain dan menyanyi orang lain. dan orang yang sangat mudah sekali tersenyum dan tertawa. Ini menyiksa diriku sendiri. Tapi inilah caraku untuk bertahan. Aku ingin menunjukkan bahwa sekarang aku bukanlah gadis lemah yang mudah disakiti tapi aku adalah gadis kuat dan tangguh”
“kau salah Yoona, kau sama seperti dulu. Kau bukan gadis lemah tapi kau adalah gadis berhati lembut. Lembut dengan lemah itu jauh berbeda. Hatimu masih sama seperti dulu, walaupun aku baru mengenalmu sekarang tapi aku tahu itu. kau hanya ingin menunjukkan bahwa kau gadis yang tak mudah disakiti. Tapi itu salah, itu membuat orang-orang disekitarmu membuat jarak denganmu karena mereka tidak tahu hatimu, karena tampilanmu yang seperti itu.
Terlalu sombong untuk berpikir kau tidak membutuhkan teman dan terlalu naif untuk berpikir semua orang adalah temanmu. Pernahkah kau mendengar pepatah itu? Bagaimanapun juga didalam lubuk hatimu kau menginginkan teman, teman yang selalu ada saat kau membutuhkannya. Kembalilah seperti dulu” jelas Kikwang panjang lebar dengan tatapan lembut menatap ke arah subjek pembicaraan.
“tak bisa! Aku tak bisa seperti dulu, inilah aku! Kau salah telah menilaiku seperti itu” Yoona berdiri dan meninggalkan Kikwang yang masih terdiam. Tak mudah memang membujuk Yoona.
Benar memaafkan bukan hal mudah memang, sesulit apapun itu kita harus mencoba memaafkan orang yang pernah menyakiti kita. Dan marah tidaklah membuat kita melupakan rasa cinta kita terhadapnya, hanya akan menambah luka dihati kita, dan mungkin rasa cinta itu akan semakin besar terhadapnya.
                                                                        **
            
 -------------------------------------------------------------------------------------------------------
terima kasih sudah mau baca, saya tunggu ya komentarnya. terima kasih ^_-~*

Rabu, 23 Januari 2013

[FF] Hexagonal Part 1












Cerita ini menceritakan seorang gadis yang perasaan dan sifatnya berubah-ubah seperti “Hexagonal” atau persegi enam, tidak mudah menggambar persegi enam,membutuhkan waktu dan perhitungan dibandingkan menggambar sebuah persegi ataupun sebuah segitiga. Sama persis dengan sifat gadis ini. Seorang pria asing hadir dikehiduapnnya dan menghancurkan hari-harinya sementara itu Seseorang yang menggoreskan luka masa lalu itu kembali kekehidupannya. Apa yang akan dilakukan gadis itu menghadapi kedua pria itu? Mungkin cerita ini akan dipenuhi banyak cerita dai berbagai sisi kehidupan.

            Pagi nan cerah, matahari terlihat sangat jelas. Sebuah rumah besar nan indah dengan interior barat. Warna coklat keemasan menambah kesan mewah pada rumah itu. Suara gemericik air terdengar dari belakang rumah. Kolam renang yang begitu luas digunakan sang pemiliknya untuk menikmati udara pagi sembari menikmati segarnya air pada pagi hari. ini memang hari minggu hari yang dinanti-nanti oleh banyak orang. Begitu pula dengan gadis tinggi semampai pemilik rambut panjang dan kulit yang begitu putih seperti susu ini. Dia adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan ternama di ibu kota. Tak heran hidupnya dipenuhi tugas-tugas yang menantinya.
            Yoona, itulah dia. Nama yang cantik sesuai dengan pemiliknya. Bisa dikatakan dia adalah gadis yang sangat mapan diumurnya yang sangat muda. Dia mampu membiayai hidupnya sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Ya dia memang hidup sendiri. orang tuanya tinggal di Australia sedangkan dia menetap di Korea. Bahkan rumah yang dia tempati adalah hasil jerih payahnya sendiri. Itulah Yoona, tidak mau menerima bantuan dari orang lain selagi dia masih mampu melakukannya sendiri meskipun bantuan itu dari orang tuanya sendiri.
            5 menit yang lalu dia baru saja menerima panggilan yang sanggup membuatnya seolah-olah tersengat listrik. Dia beku ditempatnya.
            Lalu dia mengomel-ngomel sendiri dan marah-marah tak jelas. Dia berteriak-teriak. Dia sungguh aneh. Panggilan tadi adalah panggilan dari Ayahnya. Tak seperti biasanya, setelah mendapat telefon dari Ayahnya dia akan selalu terlihat bahagia. Tapi tidak dengan kali ini.
            Tok Tok Tok
            Suara ketukan pintu terdengar. Yoona tampak semakin cemas. Dia menuruni tangga rumahnya dan membuka pintu itu. Seorang pria asing menunjukkan senyuman manisnya. Pria itu nampak begitu mempesona dengan kaos putih dan topi hitam yang dikenakannya.

            Der! Pria itu sudah membuat Yoona cukup terpesona dengan gayanya yang seperti itu. Itulah Yoona yang paling suka melihat laki-laki dengan pakaian berwarna putih ataupun hitam. Cukup simple tapi itu sangat keren menurutnya.
            Pria itu tersenyum lalu tanpa seijin Yoona dia memasuki rumah Yoona dan duduk sambil memejamkan matanya.
            Prak! Yoona kaget melihat perilaku tamunya itu yang sangat tidak sopan. Kesan baik yang ditimbulkan pria itu sekarang menjadi kesan buruk. Yoona berjalan kearah pria itu dan memandangi pria itu yang sedang terpejam.
            Tiba-tiba tangan pria itu menarik tubuh Yoona. Dan alhasil badan Yoona menindih badan pria itu. Yoona nampak terkejut dengan perilaku pria yang bahkan namanya dia tidak tau.
            “bukankah kau tadi terus memandangiku? Bukankah dengan begini kau bisa memandangiku lebih jelas?” ucap laki-laki itu masih dengan matanya yang terpejam.
            Yoona bangkit dan mengambil sesuatu dari belakang rumahnya.
            Byur! Seember air membasahi tubuh pria itu. Pria itu terbangun dan melototi Yoona. Yoona tersenyum lebar dengan apa yang telah dilakukannya. Pria itu berdiri dan menatap Yoona tajam. Mereka saling menatap.
            Cup! Tidak disangka pria itu malah mencium pipi kanan Yoona. Yoona terlihat sangat kaget dengan kelakuan pria itu yang tak bisa ditebak.
            “kau sudah diberi tahu ayahmu kan bahwa aku akan datang?” ucapnya tiba-tiba.
            Hal itulah yang membuat Yoona gusar. Pria itu adalah pria yang akan tinggal bersamanya. Ayah mereka sudah berteman sejak mereka kecil. Bahkan saat mereka, Yoona dan KiKwang. Itulah nama pria itu KiKwang. Sejak mereka kecil orang tua mereka sudah merencanakan ingin menjodohkan mereka berdua. Dan sekarang mereka mulai merealisasikan rencana itu. Gila memang tapi itulah yang harus dihadapi Yoona sekarang.
            Tak terasa hari yang paling tidak disuka hampir sebagian besar orang dimuka bumi ini sudah datang kembali, senin.
            Suara berisik dari dapur serta bau yang begitu menusuk hidung membuat Kikwang  terbangun dari tidur indahnya.
            Dia mengamati seseorang yang sedang asik berkutat dengan peralatan masak yang ada didepannya Yoona. Entah apa yang dia buat, dia nampak sibuk sekali.
            Terlihat senyum bahagia dari Yoona. Entah apa yang membuatnya tersenyum sendiri seperti itu. KiKwang mengikuti arah mata Yoona. Tidak ada sesuatu yang menarik menurutnya.
            “kenapa kau tersenyum seperti itu?”
            “ish dasar pengganggu” dengus Yoona kesal.
            KiKwang nampak begitu kesal dengan perlakuan gadis itu. Gadis itu memperlakukannya dengan sangat buruk. Bahkan menatapnya saja tak mau. Apakah dia begitu membenci KiKwang? Yah mungkin saja
            KiKwang berjalan menuju meja makan besar yang ada dirumah itu. Tak ada makanan apapun disana. Dia menuju kedapur dan mencari almari dan membukanya, dan tak ada lagi makanan, almari es? Buka! Hasilnya nihil sama saja.
            Pintu alamari es dibantingnya dengan keras. Darahnya mulai naik. Dia menaiki tangga rumah itu. Membuka pintu dari kamar yang berada dipojok.
            Terdengar teriakan saat pintu itu dibuka. Tanpa disangka ada seseorang yang sedang mengganti busananya. Dan tepat itu adalah Yoona.
            Laki-laki penyebab teriakan itu terkekeh-kekeh akibat kejadian itu. Lucu untuknya dan memalukan bagi gadis itu.
            Dia bukan laki-laki mesum. dia tidak menertawakan tubuh gadis pemilik rumah itu. Dia menertawakan ekspresi gadis itu yang menurutnya menggemaskan. Menggemaskan? Ah bukan, KiKwang langsung menarik kata-kata menggemaskan yang sempat disematkannya untuk Yoona.
            Kini giliran sang gadis yang menarik pintu kamarnya. Dia nampak marah sekali. Dia menghampiri KiKwang, dan plak! Dia menampar pria yang membuatnya marah.
            KiKwang memegang pipi mulusnya sembari menatap tajam gadis yang ada dihadapannya. Gadis itu tak bergeming dia membalas tatapan itu dengan tatapanan yang tak kalah ngeri.
            KiKwang mulai gerah dengan suasana seperti itu. Dalam sejarah hidupnya tak ada satu orangpun yang pernah menamparnya. Ini pertama kalinya. Ini kejadian yang tak pernah dilupakan untuk KiKwang. Ditampar seseorang. Bahkan seorang wanita. Sungguh memalukan.
            Cup! KiKwang mencium Yoona. Tepat seperti kejadian tempo hari saat mereka bertengkar juga.
**
            Ruangan diujung gedung bernama LK. Sekumpulan orang dengan kening mereka yang panas. Bukan karena cuaca hari ini yang sangat terik tapi karena rapat hari ini terasa berat untuk mereka. krisis di Eropa menyebabkan penurunan pendapatan perusahaan tempat mereka menggantungkan hidup mencapai 20%. Bukan nilai yang kecil.
            Semua orang pusing mencari cara menangani masalah itu. Inilah penurunan terbesar sepanjang satu dekade terkahir ini. perusahaan merugi berpuluh-puluh miliar akibar penurunan ini.
            Krisis ini mengancam beribu-ribu orang yang menggantungkan hidup mereka di perusahaan yang bergerak dibidang kosmetik itu. Para pegawai was-was terhadap krisis ini. beberapa pakar ekonomi memperkirakan krisis yang terjadi di Eropa ini tidak berlangsung singkat.
            Seperti diberitakan di media masa banyak pegawai yang di PHK akibat krisis itu. Krisis ini ditakutkan akan menjadi krisis yang begitu menakutkan seperti krisis yang terjadi pada tahun 90-an.
            Pria tampan dengan dengan jas berwarna hitam dan dasi berwarna putih, memimpin rapat itu. Tak ada aura ketegangan dan ketakutan sedikitpun dari wajahnya. Yang tampak hanya ketenangan dan kedamaian.
            Dia adalah pemilik sekaligus pemimpin diperusahaan itu. Dia memang baru di sana. Satu minggu lamanya dia memimpin perusahaan bernama LK itu. Memang perubahan belum mereka rasakan, tapi setidaknya mereka mendapatkan sedikit pencerahan.
            Pria itu menjamin tidak akan ada PHK besar-besaran diperusahaannya. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya disini. Berapa ribu keluarga yang akan dia bunuh jika dia melakukan hal itu. Dia masih memiliki hati nurani.
            Dengan cepat berita menyebar, semua orang menjadi sedikit tenang karena hal itu. Di toilet! Tempat yang sangat strategis untuk gadis-gadis menggosip dipenuhi dengan nama “KiKwang”, boss mereka. mereka menjadi tergila-gila kepadanya. Selain hatinya yang tampan wajahnya juga sangat tampat. Tak mengecewakan.

            Ki Kwang memasuki rumah yang sementara disebutnya tempat tinggalnya itu dengan lesu. Ditujunya dapur lagi-lagi tak ada makanan yang tersisa untuk KiKwang. Dia begitu lelah hari ini, banyak hal yang harus dikerjakannya diperusahaan miliknya.
            Seharian dia bahkan tidak sempat makan. Dia duduk lesu didepan TV diruang tengah. Tanpa disadarinya dia tertidur. Sangat pulas. Terlalu lelah mungkin.
            Suara mobil memasuki garasi rumah itu. Yoona lembur semalaman untuk mengerjakan tugas kantornya. Dia tak kalah lelah dengan KiKwang. Dia memasuki rumahnya, dia terkaget akan pemandangan didepannya.
            Tak ada raut wajah orang menyebalkan pada laki-laki saat tidur. ucap Yoona dalam hati saat memandangi wajah KiKwang yang terpampang jelas didepannya.
Terdengar suara dari perut pria didepannya itu. Gadis itu tertawa mendengarnya. Beberapa saat kemudian perutnya mengeluarkan bunyi yang sama. Haha mereka memang lapar.
Yoona menggoyangkan tubuh KiKwang berusaha membangunkan sang empunya tubuh. Sulit sekali membangunkan pria itu. Beberapa kali Yoona menggoyangkan bahu pria itu. Tak ada respond sama sekali. Tanpa disadari tangannya bergerak menuju pipi Kikwang yang mulus. Dia mengelus-elus pipi itu. Ah bukan, dia memukul-mukuli pipi itu.
Tangan yang semula digunakannya sebagai bantal tiba-tiba meraih tangan yang sedang mengganggu tidurnya. Yoona kontan langsung melepaskan tangan itu.
Tanpa basa-basi Yoona langsung mengajak Kikwang keluar untuk mencari makan. Pria itu tanpa berfikir panjang langsung mengiyakan tawaran itu. Perutnya sudah tersiksa.
Tak ada percakapan sama sekali didalam mobil berwarna silver yang melaju cukup pelan itu. Kedua-duanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tempat yang mereka tuju akhirnya ada didepan mata. Mereka turun dengan semangatnya. Mereka memesan makanan kesukaan masing-masing. Ternyata makanan yang mereka pesan sama.
Lagi-lagi tak ada percakapan diantara mereka. makanan didepan mereka lebih menarik dari pada manusia didepan mereka.
**
            “apa yang kalian lakukan sebenarnya? Disaat seperti ini kalian masih bersantai-santai?!” teriak seorang gadis yang mejanya terletak paling depan diantara meja-meja diruangan itu.
            Gadis itu adalah Yoona. Dia adalah kepala dari departemen pemasaran diperusahaannya. Dia merasa bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi diperusahaannya.
            Seorang karyawan yang memiliki tanggung jawab yang besar. Itulah dia. Sebenaranya dia bukan boss yang suka marah-marah. Tapi ini disaat kritis masih saja ada orang yang menyempatkan diri untuk bermain. Tak ada waktu untuk bermain!
            Bunyi sepatu berhak tinggi memenuhi ruangan itu.  Gadis itu berlalari ke arah Yoona “nona, anda dipanggil oleh presdir” ucap gadis berbadan cukup subur itu.
            “ha aku? Untuk apa?” tanyanya kaget. Dia nampak kaget dan kesal mendengar bossnya memanggilnya.
            “tak tau, cepatlah. Kau ditunggu diruangannya” nampaknya memang ada hal penting yang ingin disampaikan bossnya kepada Yoona.
Kaki jenjangnya segera berlari kecil menuju ruangan bossnya itu. Gadis itu nampak takut. Bahkan dia sampai mengeluarkan keringat dingin. Sampai didepan pintu yang menjadi tujuannya dia justru berhenti. Dia berjalan menjauhi pintu itu, dan berhenti lagi. Dia berjalan dan mendekati pintu itu dan dia berhenti begitu seterusnya. sudah 10 menit lamanya dia melakukan hal aneh itu.
Ceklek! Suara pintu itu terbuka. Yoona tampak bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia berdiri dengan wajahnya menghadap kelantai. Malas untuk menghadapi orang di hadapannya.
**
            “apakah saya harus melakukannya tuan? Sepertinya ini bukan bagian dari pekerjaan saya, ini merupakan sebuah pelanggaran sepertinya”
            “berani sekali kau mengatakannya kepada bossmu ini. haha. Sebaiknya kau diam dan menikmati hari ini” gadis itu menatap pria di depannya penuh benci. Kebenciannya sungguh menakutkan, ingin sekali dia memukuli pria itu. Tapi itu tak mungkin dilakukan. Bagaimanapun pria itu adalah pemimpin perusahaan tempatnya bekerja. Mau tidak mau dia harus menahan sedikit kebenciaannya kepada pria menyebalkan itu.
            Malam ini langit di kota Seoul begitu indah. Entah mengapa suasana malam ini begitu berbeda bagi banyak orang. Termasuk Yoona, malam ini dia nampak begitu cantik dengan balutan gaun berwarna hitam yang ukurannya sangat pas untuk tubuhnya yang sangat ramping itu. Sepertinya indah hanya untuk fisiknya, tidak begitu dengan hatinya.
            Riasan yang ringan, tak terlalu tebal. Dia terlihat sangat alami. Itulah salah satu kekurangannya terlalu alami. Rambutnya digerai, sementara poninya tak dibiarkan menutup keningnya yang indah. Dia menjepitnya dengan jepitan berwarna putih. Dia nampak begitu cantik meskipun tak ada senyum sama sekali di wajahnya.
            “kau tak berubah sama sekali” ucap seorang pria yang melihat Yoona. Sementara gadis yang diajak bicara hanya tersenyum menghina.
            Pria itu tak kalah dari Yoona. Dia terlihat begitu tampan dengan jas berwarna hitam dan dasi bermotif garis-garis berwarna putih. Bahkan dia masih mengingat selera dari sang mantan kekasih.
            Pria itu tersenyum lebar, senyumnya masih seperti dulu. Dia adalah Donghae. Seorang pria dari masa lalu Yoona. Entah terbuat dari apa perasaan pria itu, masih saja dia menunjukkan senyum lebarnya setelah gadis itu memberikan senyuman yang begitu pahit meskipunmasih terlihat cantik.
            Donghae mengulurkan tangannya, Yoona tak mau menerima uluran tangan itu. Kemudia pria itu membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. Entah apa yang dia bisikkan tapi itu sanggup membuat gadis itu melingkarkan tangannya ke tangan Donghae.

            Suasana diacara pernikahan dari salah pengusaha terkaya di Korea itu  begitu ramai. Ruangan itu berubah menjadi lautan manusia. Banyak kalangan kelas atas yang berkumpul ditempat itu, bukan banyak tapi seluruhnya mungkin.
            “dia siapa?” tanya sang pengantin pria pada Donghae. Pengantin pria itu melihat Yoona penuh selidik, melihatnya dari atas sampai bawah. Tak ada yang luput dari pandangan pria itu.
            “ah dia pacarku. Cantik , kan?” jawab Donghae sangat santai.
            “bukan, saya adalah pegawai yang bekerja diperusahaan beliau” Yoona berusaha meluruskan masalah itu sebelum ada salah paham. Dan juga dia tak mau disebut dengan sebutan kekasih pria itu. Sungguh tak mau! Lagi!
            “maksudnya dia itu pacar sekaligus pegawaiku, bukankah itu keren? Setiap hari kami selalu bertemu. Ah itu sangat menyenangkan”
            Donghae adalah anak pemilik perusahaan Yoona bekerja, dan sekarang Donghae sudah resmi menjadi pemilik perusahaan itu. Gadis  tak mengetahui jika perusahaan tempat dia bekerja adalah milik sang mantan kekasih. Donghae tidak pernah mengatakan jika dia adalah anak seorang konglomerat. Yang dia tahu hanya pria itu pria biasa yang memiliki otak diatas rata-rata.
Dan Kecerdasan itulah yang membuat mereka harus berpisah. Kecerdasan membawa mala petaka mungkin.
            5 tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Kini Donghae telah kembali ketempat seharusnya dia berada. Dia tak dapat memungkiri bahwa dia masih memiliki perasaan pada gadis cantik itu. 6 tahun mereka menjalin ikatan cinta, bukan waktu yang singkat.
            “apa kau lelah?” tanya Donghae. Mereka kini sudah keluar dari kerumunan manusi-manusia itu. Yoona merasa sangat bebas.
            “kau masih sama seperti dulu. Duduklah” Yoona menuruti perkataan Donghae. Pria itu menjongkok dan memijit pergelangan kaki gadis cantik itu. Dia masih mengingat segala hal yang berkaitan dengan Yoona. Dia masih ingat gadis itu tak suka memakai sepatu yang berhak,selain tak nyaman dia sangat tahu jika sepatu itu dapat mengganggu kesehatannya, sepatu itu dapat membuat pinggulnya tidak seimbang, dia tahu persis tentang hal itu.
            Yoona memandangi Donghae yang nampak sangat terlatih memijit kakinya. Yoona mulai sadar semua ini tidak benar.

            “tadi malam kau pulang jam berapa?” Kikwang memulai percakapan dengan Yoona.
            “emh? Aku tidak melihat jam saat pulang” jawab Yoona sambil mengunyah makanannya “oh apakah kau menungguku?”
            “huh! Kau jangan bermimpi nona!” Kikwang tersenyum menghina “baiklah aku harus cepat pergi, sebagai seorang atasan aku harus memberikan contoh yang baik untuk karyawan-karyawanku. Dan kau juga sebagai bawahan jangan membuat perusahaanmu merugi karena memperkerjakan orang sepertimu”
            Kikwang pergi dengan santainya, melirik kebelakang saja tak mau. Dia sungguh laki-laki yang menyebalkan. Sungguh tak punya sopan santun.
           
            Tas besar berisi kosmetik, terlihat sangat berat. Yoona membawa tas besar itu dengan terengah-engah. Tas itu sepertinya lebih berat dibandingkan dirinya. Sebuah tangan meraih tas itu dan membawanya. Gadis itu melihat tangan yang meraih barang miliknya itu dan wajah dari pemilik tangan. Benar saja pria itu adalah Donghae.
            Donghae hanya tersenyum sambil membawa tas besar itu. Sementara Yoona hanya diam sambil mengikuti pria itu dari belakang.
            Yoona memandangi punggung pria itu. Punggungnya lebih lebar dibanding beberapa tahun lalu, punggung itu terlihat begitu mempesona dimata Yoona.
            Semua mata memandangi mereka. sepertinya hari ini akan ada topik yang bagus untuk orang-orang yang suka bergosip. Benar saja, berita itu langsung menyebar diseluruh kantor.
            “hah dia sangat beruntung. Kenapa boss kita harus menyukai Yoona? Kenapa bukan aku” ocehan itu terdengar didalam toilet, tempat yang sering digunakan gadis-gadis untuk bergosip. Orang-orang yang mendengar ocehan itu mulai merespond perkataan itu.
            “ah benar gadis itu begitu beruntung. Boss kita selain kaya juga memiliki wajah yang sangat tampan”
            Pintu sebuah kamar mandi terbuka, tidak disangka orang yang sedang mereka bicarakan mendengar semua itu. Mereka terkejut dan tak menyangka gadis itu berada disana. Yoona tak berkomentar apapun. Dia lantas meninggalkan gadis-gadis yang hobi bergosip itu.
            Yoona berjalan dengan perasaan wajah marah, mulutnya tak bisa diam, dia mengomel sepanjang jalan.
            “apa kau baik-baik saja?” ucap seseorang tiba-tiba.
            “hei! Jangan men agagetkanku!” teriak Yoona “ah kau lagi, kenapa kau selalu mengganggu hidupmu. Hah kau membuuat hidupku terasa begitu berat” ucap Yoona sangat mengetahui orang itu adalah Donghae.
            “ah tolong jangan menggangguku. Orang-orang menjadi salah paham karena perlakuanmu padaku. Aku adalah pegawaimu. Oh maaf sebaiknya aku memanggilmu tuan. Bagaimanapun kau adalah presdir disini”
Donghae segera menyadari kesalahannya. Dia tahu hal itu membuat Yoona tak nyaman. Dia segera berjalan menjauhi Yoona. vinaaristantia.blogspot.com
Yoona memandangi punggung pria itu yang semakin menjauh dengan sedih. Entah kenapa hatinya terasa sakit, dia tak rela. Apakah dia masih mencintai pria itu?

Kadang cinta memang menyakitkan, tapi inilah yang membuat cinta menarik dan menyenangkan. Seperti bermain dengan nyali dan hati kita.


terima kasih yang telah membaca tulisan saya ini. mohon dikomenentari tulisan ini ya ^_-~* terima kasih ^^ dan maaf jika banyak kesalahan dan ceritanya tak begitu menarik