---------------------------------------------------------------------------------------------------
KiKwang
sibuk memimpin rapat diperusahaannya. Masalah tentang penjualan belum juga
teratasi. Pendapatannya tak kunjung mengalami kenaikan. Tidak mudah memang
menjadi seorang pemimpin di perusahaan besar. Dia harus menyelesaikan masalah
ini, banyak nasib yang tergantung padanya.
“bagaimana
dengan LD? Apakah mereka sama seperti kita?” tanyanya kepada
karyawan-karyawannya yang juga dibuat gila akibat krisis ini.
LD
adalah perusahaan milik Donghae yang bergerak dibidang sama sepertinya, kosmetik.
Sudah sejak lama LD dan LK menjadi saingan berat, perusahaan mereka perusahaan
kelas atas diKorea. Hampir seluruh pasar kosmetik di Korea mereka kuasai.
Keduanya kini mengalami masalah
yang sama. Krisis di Eropa penyebabnya. Entah sampai kapan semua ini akan
berakhir. Entah apa yang akan terjadi jika krisis ini tak kunjung selesai.
Bagaimanapun pria itu harus mencari cara apapun agar masalah ini dapat segera
diatasi.
**
“bagaimana
dengan perusahaanmu?” tanya Kikwang pada Yoona yang baru pulang. Nampak sekali
wajah lelah dari gadis itu. Sungguh pria itu tidak dapat membaca situasi sama
sekali.
“kenapa
kau ingin tahu? Itu bukan urusanmu!” jawab Yoona jutek. Gadis itu tergeletak
lemas di sofa ruang tengah rumahnya yang juga diduduki oleh Kikwang.
“hey!
Kenapa kau tak pernah memperlakukanku dengan baik? Tak bisakah kau
memperlakukan tamumu dengan manis? Dengan penuh sopan santun?”
“bisa, tapi aku orangnya pemilih,
tidak semua orang mampu menerima perlakuan baikku. Karena tidak semua orang
memperlakukanku dengan baik. Bagaimana bisa aku memperlakukanmu dengan baik
sementara kau memperlakukanku dengan sangat buruk”
“hey!
Kapan aku bersikap buruk padamu? Aku selalu berusaha bersikap baik padamu, tapi
kau tak pernah menerimanya dan membalasku dengan perlakuan dinginmu padaku”
“ah
tak pernah?” Yoona tersenyum dengan makna penghinaan “kau tahu kau sudah
mengganggu hidupku akibat kedatanganmu. Aku sangat terganggu dengan adanya kau
disini. Aku tak suka kau ada disini. Kau tahu itu?”
“kau
pikir aku mau disini! Ini permintaan ibuku! Jika bukan karena ibuku aku juga
tak sudi tinggal di rumah orang sepertimu. Yang tidak bisa berbaik hati kepada
orang lain. bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini? betapa malangnya orang-orang
yang hidup disekitarmu”
“hey!
Jaga mulutmu itu! Kau tak tau apa-apa tentangku! Tak usah mengomentari tentang
kehidupanku, urus saja kehidupanmu sendiri. lagi pula sepertinya hidupmu juga
tak terlalu baik. Bagaimana bisa diumurmu yang sebesar ini masih saja diatur
oleh ibumu. Setidaknya kau bisa menolak saat ibumu menyurumu tinggal disini”
“dan
kau tidak usah berkomentar tentang ibuku! Kau tak tau apa-apa tentangnya! terserah
kau sajalah. Aku lelah” KiKwang meninggalkan Yoona, hatinya sakit akibat ocehan
Yoona yang menurutnya keterlaluan. Disisi lain Yoona masih tenang di tempatnya,
tak ada perasaan bersalah.
Sepertinya
hari inilah pertengkaran terbesar keduanya.
Pertengkaran!
Tiada hari tanpa pertengkaran untuk mereka berdua. Sudah beberapa minggu Kikwang tinggal di rumah itu.
Masih saja dia tak nyaman dengan rumah itu, bukan karna rumahnya tapi karena
pemiliknya yang memperlakukannya dengan buruk. Sejak kejadian malam itu mereka
tak pernah berbicara satu sama lain.
Beberapa
hari ini Kikwang tak pulang ke rumah, ada perasaan khawatir dibenak Yoona.
Yoona tak sekejam itu. Sudah terhitung tujuh hari semenjak kepergian Kikwang.
Dia ingin mencari tahu dimana pria itu berada. Bahkan nomor ponsel pria itu
saja dia tak tahu, lalu bagaimana....
Terdengar
suara mobil memasuki rumah itu, Yoona berlari ringan untuk melihat siapa yang
datang. Terlihat mobil berwarna hitam yang tak asing untuknya. Pria yang
ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan dirinya. Kikwang datang.
Kikwang
memasuki rumah itu, mulut Yoona bergerak begitu saja. Dia berbicara dengan Kikwang.
Menanyakan keadaan Kikwang, pergi kemana saja laki-laki itu untuk beberapa hari
terakhir. Sepertinya gadis itu sudah melupakan pertengkaran beberapa hari lalu.
Kikwang nampak heran melihat gadis itu yang nampak berbeda dengan dengan
beberapa hari yang lalu.
Yoona
langsung tertunduk malu menyadari kebodohannya, sedangkan Kikwang tersenyum
senang melihat perubahan gadis itu.
“maaf
jika membuatmu khawatir. Kemarin adalah 1 tahun kematian ibuku, aku harus
mengunjungi makamnya” Yoona nampak terkejut dengan jawaban Kikwang.
“jadi
kau tak bisa menolak permintaan itu karena..”
“benar”
Kikwang memotong perkataan Yoona. Kikwang memperlihatkan senyumnya yang manis,
untuk sesaat senyum itu mampu membuat Yoona sedikit menghilangkan rasa
bersalahnya akibat ocehannya tempo hari.
“maafkan
aku, aku tak tau” Yoona tertunduk, dia merasa sangat bersalah “dan aku juga mau
meminta maaf atas perlakuan burukku selama ini. Aku sungguh tidak dewasa sama
sekali. Bagaimana bisa diumurku yang sudah sebesar ini aku bersikap seperti
anak kecil”
“tak
papa, aku tahu tak mudah menerima orang asing” mereka tersenyum bersamaan.
Yoona
memasakkan makanan untuk Kikwang. Ini adalah kali pertama Yoona memasakkan
makanan untuk Kikwang, selama ini
memang Yoona memasakkan Kikwang makanan tapi bukan ditujukan. Yoona hanya
memasak seperti untuknya hanya saja bahan-bahannya lebih banyak dari pada
biasanya.
Kikwang memakan makanan itu dengan
sangat lahap, tak ada bumbu spesial hari itu, tapi rasanya begitu spesial untuk
Kikwang. Hatinya sangat senang hari ini.
**
Hari
Senin sudah datang. Banyak pekerjaan yang menanti. Hubungan Yoona dan Kikwang
semakin baik, mereka menjadi sangat akrab. Yoona sudah merasa nyaman ketika
berada didekat Kikwang, begitu pula sebaliknya. Hari ini Kikwang mengantar
Yoona bekerja.
Sepasang
mata menatap kejadian itu dengan kesal, ada perasaan tak rela dihatinya. Dia
langsung menghampiri gadis yang masih dicintainya sampai sekarang itu. Dia
menatap pria di sebelah gadisnya itu dengan tatapan ingin mengjarnya.
Donghae
menarik tangan Yoona, Kikwang terkejut dengan kejadian itu. Dia lantas turun
dan mengejar Donghae.
Tangan
kuat Kikwang menarik tangan Donghae yang memegang pergelangan Yoona, Yoona
nampak terkejut. Banyak mata yang mengawasi mereka. Donghae dan Kikwang
bukanlah orang sembarangan, mereka petinggi dari perusahaan besar. Bisa-bisa
hal ini bisa menyebabkan masalah.
Yoona
berusaha menyadarkan mereka berdua yang kini sedang beradu pandangan. Mereka
menyadari kebodohan yang mereka lakukan. Kikwang pergi dari tempat itu dengan
perasaan marah dihatinya. Bagaimanapun juga ini adalah wilayah Donghae. Sedangkan
Donghae merasa sangat puas karena merasa menang atas kepergian Kikwang.
Donghae
menarik Yoona dan membawa gadis itu keatap gedung. Tak ada siapapun disana,
hanya mereka.
“kenapa
kau bisa bersamanya?” tanya Donghae.
“sepertinya
itu bukan urusanmu” jawab Yoona dengan sangat enteng. Gadis itu sangat pintar
membuat orang menjadi kesal sepertinya. “sekarang
kau bukan siapa-siapa, kau tak berhak menanyakan hal itu tuan”
“mungkin
kau menganggapku bukan siapa-siapa, tapi untukku kau masih orang yang spesial.
Kaulah orang yang mengisi hatiku sampai sekarang. tak ada yang mampu
menggantikanmu sampai sekarang”
“ah
benarkah? Betapa manisnya kata-kata tuan. tapi sayang perlakuan tuan tak semanis
kata-kata tuan. Seandainya perlakuan anda semanis perkataan anda. Tentu ini
semua tidak akan pernah terjadi” Yoona seolah-seolah menaruh simpati sekaligus
menaruh racun disetiap perkataan yang keluar dari mulutnya “bukankah dulu tuan
yang mengakhiri semuanya? Apakah tuan sudah lupa? Bukankah tuan memiliki otak
yang cerdas? Bagaimana hal itu sanggup tuan lupakan? Saya saja masih dengan
mudah mengingat semuanya. Semuanya!” Yoona mengatakannya dengan sangat baik, perkataan itu mampu menusuk hati
Donghae. Yoona pergi meninggalkan Donghae yang masih terpaku ditempatnya.
Yoona
menoleh dan berbalik arah.
“ah
iya aku lupa tuan, apakah tuan masih ingat tentang pelajaran fisika yang tuan
terima dulu? Hukum Aksi Reaksi! Setiap perbuatan pasti ada balasannya, sekecil
apapun itu! Dan reaksinya juga akan sebanding dengan aksinya. Apa yang tuan
lakukan dulu pasti akan mendapat balasannya, mungkin sekarang atau besok pasti
akan menerimanya. Ah kenapa dunia ini begitu kejam tapi ini sangat menyenangkan.
Aku sangat menikmati hukum alam itu. Ah indahnya hari ini. Sepertinya aku harus
kembali bekerja tuan tak baik terlalu lama meninggalkan mejaku, aku disini
untuk bekerja bukan untuk bermain. Selamat pagi tuan. oh ya tuan jangan lama-lama disini ya, tak
baik untuk kesehatan tuan. Di sini cukup dingin”
Donghae
terdiam ditempatnya, dia tak percaya gadis itu bisa sangat berubah. Gadis itu
dulu sangat polos dan tutur katanya mampu menyejukkan hatinya tapi kini tutur
kata gadis itu mampu melukai hatinya. Apakah itu semua karenanya? Karena luka
yang digoreskannya kepada gadis itu? Apakah luka itu begitu dalam sehingga
membuat orang yang begitu hangat berubah menjadi sangat dingin?
Dia masih mampu mengingat kejadian 5 tahun
yang lalu, dimana dia mengakhiri hubungannya
dengan Yoona. Bahkan dia mengakhiri semua itu hanya dengan mengirim SMS,
dia tak tau betapa sakit hati Yoona saat itu, gadis itu sangat mencintainya.
Donghae
mengakhiri hubungannya dengan Yoona hanya karena dia merasa dia tidak sanggup menjalani
hubungan jarak jauh yang begitu menyiksa dengan Yoona. Cepat atau lambat hal
itu pasti akan terjadi, hanya waktunya saja. Dan juga, Donghae mendengar
semenjak kepergiannya, Yoona menjadi sangat dekat dengan teman laki-lakinya.
Yah
seperti bunyi hukum aksi reaksi, ada aksi pasti ada reaksi. Inilah yang
diterima Donghae, dulu dia mencampakan Yoona dan membuat gadis itu terluka,
kini dia yang harus merasakan luka itu. Adil
memang.
**
“Ketika 2 sahabat
menjadi kekasih itu sebuah ketulusan. Ketika 2 mantan kekasih menjadi sahabat
itu sebuah kedewasaan” kata-kata itu terlontar saja dari
mulut Kikwang yang mendapati Yoona terdiam dengan pikiran kosong. Pria itu
mengerti apa yang dipikirkan gadis itu. Donghae! Dia dengan jelas dapat
melihatnya. Kikwang sudah mengetahui semua perihal hubungan Yoona dan Donghae
Yoona
tersenyum lalu menjelaskan perasaanya. Entah kenapa dia merasa nyaman saat
berkeluh - kesah dengan Kikwang.
“aku
tidak mau perasaanku kembali kacau karenanya. Aku sungguh membencinya, hal itu hanya akan membuat lubang dihatiku
yang kini sedikit tertutup akan kembali menganga. Emosi yang kini sudah padam
pada akhirnya akan kembali berkobar. Aku
tak ingin merasakan sakit itu! Tak ingin! Kau tahu butuh berapa lama aku
keluar dari rumah setelah berpisah darinya? 1 bulan! Selama berminggu-minggu
aku menangis karenanya, aku sakit karenanya! Tapi apa dia tahu penderitaanku?
Apa dia tahu sakit yang aku rasakan? Dia tak tahu apa-apa.
Aku
juga kehilangan kepercayaan kepada semua orang karena dia. Kau tahu alasan
utamaku sangat membencimu saat kau datang pertama kali kesini? Karena traumaku
padanya. Dulu aku orang yang sangat mudah percaya dan menyayangi orang lain
tapi semenjak kejadian itu semuanya berubah, untuk mempercayai orang lain
begitu sulit dan apalagi untuk menyayangi dan menaruh perhatian pada orang
lain. yang ada hanyalah rasa benci. Entah kenapa aku tidak menyukai diriku yang
sekarang.
Aku
ingin menjadi seperti diriku yang dulu yang mudah mempercayai orang lain dan
menyanyi orang lain. dan orang yang sangat mudah sekali tersenyum dan tertawa.
Ini menyiksa diriku sendiri. Tapi inilah caraku untuk bertahan. Aku ingin
menunjukkan bahwa sekarang aku bukanlah gadis lemah yang mudah disakiti tapi
aku adalah gadis kuat dan tangguh”
“kau
salah Yoona, kau sama seperti dulu. Kau bukan gadis lemah tapi kau adalah gadis
berhati lembut. Lembut dengan lemah itu jauh berbeda. Hatimu masih sama seperti
dulu, walaupun aku baru mengenalmu sekarang tapi aku tahu itu. kau hanya ingin
menunjukkan bahwa kau gadis yang tak mudah disakiti. Tapi itu salah, itu
membuat orang-orang disekitarmu membuat jarak denganmu karena mereka tidak tahu
hatimu, karena tampilanmu yang seperti itu.
Terlalu
sombong untuk berpikir kau tidak membutuhkan teman dan terlalu naif untuk
berpikir semua orang adalah temanmu. Pernahkah kau mendengar pepatah itu?
Bagaimanapun juga didalam lubuk hatimu kau menginginkan teman, teman yang
selalu ada saat kau membutuhkannya. Kembalilah seperti dulu” jelas Kikwang
panjang lebar dengan tatapan lembut menatap ke arah subjek pembicaraan.
“tak
bisa! Aku tak bisa seperti dulu, inilah aku! Kau salah telah menilaiku seperti
itu” Yoona berdiri dan meninggalkan Kikwang yang masih terdiam. Tak mudah
memang membujuk Yoona.
Benar
memaafkan bukan hal mudah memang, sesulit apapun itu kita harus mencoba
memaafkan orang yang pernah menyakiti kita. Dan marah tidaklah membuat kita
melupakan rasa cinta kita terhadapnya, hanya akan menambah luka dihati kita,
dan mungkin rasa cinta itu akan semakin besar terhadapnya.
**
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
terima kasih sudah mau baca, saya tunggu ya komentarnya. terima kasih ^_-~*