Laman

Minggu, 10 Februari 2013

[FF] Hexagonal Part 2

tulisan-tulisan dibawah hanya sebatas kemampuan saya, tidak ada yang begitu istimewa. tapi saya sudah berusaha keras untuk membuatnya menjadi sesuatu. keke. dan maaf jika tidak begitu menarik.

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------
KiKwang sibuk memimpin rapat diperusahaannya. Masalah tentang penjualan belum juga teratasi. Pendapatannya tak kunjung mengalami kenaikan. Tidak mudah memang menjadi seorang pemimpin di perusahaan besar. Dia harus menyelesaikan masalah ini, banyak nasib yang tergantung padanya.
“bagaimana dengan LD? Apakah mereka sama seperti kita?” tanyanya kepada karyawan-karyawannya yang juga dibuat gila akibat krisis ini.
LD adalah perusahaan milik Donghae yang bergerak dibidang sama sepertinya, kosmetik. Sudah sejak lama LD dan LK menjadi saingan berat, perusahaan mereka perusahaan kelas atas diKorea. Hampir seluruh pasar kosmetik di Korea mereka kuasai.
Keduanya kini mengalami masalah yang sama. Krisis di Eropa penyebabnya. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir. Entah apa yang akan terjadi jika krisis ini tak kunjung selesai. Bagaimanapun pria itu harus mencari cara apapun agar masalah ini dapat segera diatasi.
                                                            **
“bagaimana dengan perusahaanmu?” tanya Kikwang pada Yoona yang baru pulang. Nampak sekali wajah lelah dari gadis itu. Sungguh pria itu tidak dapat membaca situasi sama sekali.
“kenapa kau ingin tahu? Itu bukan urusanmu!” jawab Yoona jutek. Gadis itu tergeletak lemas di sofa ruang tengah rumahnya yang juga diduduki oleh Kikwang.
“hey! Kenapa kau tak pernah memperlakukanku dengan baik? Tak bisakah kau memperlakukan tamumu dengan manis? Dengan penuh sopan santun?”
            “bisa, tapi aku orangnya pemilih, tidak semua orang mampu menerima perlakuan baikku. Karena tidak semua orang memperlakukanku dengan baik. Bagaimana bisa aku memperlakukanmu dengan baik sementara kau memperlakukanku dengan sangat buruk”
“hey! Kapan aku bersikap buruk padamu? Aku selalu berusaha bersikap baik padamu, tapi kau tak pernah menerimanya dan membalasku dengan perlakuan dinginmu padaku”
“ah tak pernah?” Yoona tersenyum dengan makna penghinaan “kau tahu kau sudah mengganggu hidupku akibat kedatanganmu. Aku sangat terganggu dengan adanya kau disini. Aku tak suka kau ada disini. Kau tahu itu?”
“kau pikir aku mau disini! Ini permintaan ibuku! Jika bukan karena ibuku aku juga tak sudi tinggal di rumah orang sepertimu. Yang tidak bisa berbaik hati kepada orang lain. bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini? betapa malangnya orang-orang yang hidup disekitarmu”
“hey! Jaga mulutmu itu! Kau tak tau apa-apa tentangku! Tak usah mengomentari tentang kehidupanku, urus saja kehidupanmu sendiri. lagi pula sepertinya hidupmu juga tak terlalu baik. Bagaimana bisa diumurmu yang sebesar ini masih saja diatur oleh ibumu. Setidaknya kau bisa menolak saat ibumu menyurumu tinggal disini”
“dan kau tidak usah berkomentar tentang ibuku! Kau tak tau apa-apa tentangnya! terserah kau sajalah. Aku lelah” KiKwang meninggalkan Yoona, hatinya sakit akibat ocehan Yoona yang menurutnya keterlaluan. Disisi lain Yoona masih tenang di tempatnya, tak ada perasaan bersalah.
Sepertinya hari inilah pertengkaran terbesar keduanya.

Pertengkaran! Tiada hari tanpa pertengkaran untuk mereka berdua. Sudah  beberapa minggu Kikwang tinggal di rumah itu. Masih saja dia tak nyaman dengan rumah itu, bukan karna rumahnya tapi karena pemiliknya yang memperlakukannya dengan buruk. Sejak kejadian malam itu mereka tak pernah berbicara satu sama lain.
Beberapa hari ini Kikwang tak pulang ke rumah, ada perasaan khawatir dibenak Yoona. Yoona tak sekejam itu. Sudah terhitung tujuh hari semenjak kepergian Kikwang. Dia ingin mencari tahu dimana pria itu berada. Bahkan nomor ponsel pria itu saja dia tak tahu, lalu bagaimana....
Terdengar suara mobil memasuki rumah itu, Yoona berlari ringan untuk melihat siapa yang datang. Terlihat mobil berwarna hitam yang tak asing untuknya. Pria yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan dirinya. Kikwang datang.
Kikwang memasuki rumah itu, mulut Yoona bergerak begitu saja. Dia berbicara dengan Kikwang. Menanyakan keadaan Kikwang, pergi kemana saja laki-laki itu untuk beberapa hari terakhir. Sepertinya gadis itu sudah melupakan pertengkaran beberapa hari lalu. Kikwang nampak heran melihat gadis itu yang nampak berbeda dengan dengan beberapa hari yang lalu.
Yoona langsung tertunduk malu menyadari kebodohannya, sedangkan Kikwang tersenyum senang melihat perubahan gadis itu.
“maaf jika membuatmu khawatir. Kemarin adalah 1 tahun kematian ibuku, aku harus mengunjungi makamnya” Yoona nampak terkejut dengan jawaban Kikwang.
“jadi kau tak bisa menolak permintaan itu karena..”
“benar” Kikwang memotong perkataan Yoona. Kikwang memperlihatkan senyumnya yang manis, untuk sesaat senyum itu mampu membuat Yoona sedikit menghilangkan rasa bersalahnya akibat ocehannya tempo hari.
“maafkan aku, aku tak tau” Yoona tertunduk, dia merasa sangat bersalah “dan aku juga mau meminta maaf atas perlakuan burukku selama ini. Aku sungguh tidak dewasa sama sekali. Bagaimana bisa diumurku yang sudah sebesar ini aku bersikap seperti anak kecil”
“tak papa, aku tahu tak mudah menerima orang asing” mereka tersenyum bersamaan.
Yoona memasakkan makanan untuk Kikwang. Ini adalah kali pertama Yoona memasakkan makanan untuk Kikwang, selama ini memang Yoona memasakkan Kikwang makanan tapi bukan ditujukan. Yoona hanya memasak seperti untuknya hanya saja bahan-bahannya lebih banyak dari pada biasanya.
Kikwang memakan makanan itu dengan sangat lahap, tak ada bumbu spesial hari itu, tapi rasanya begitu spesial untuk Kikwang. Hatinya sangat senang hari ini.
**
Hari Senin sudah datang. Banyak pekerjaan yang menanti. Hubungan Yoona dan Kikwang semakin baik, mereka menjadi sangat akrab. Yoona sudah merasa nyaman ketika berada didekat Kikwang, begitu pula sebaliknya. Hari ini Kikwang mengantar Yoona bekerja.
Sepasang mata menatap kejadian itu dengan kesal, ada perasaan tak rela dihatinya. Dia langsung menghampiri gadis yang masih dicintainya sampai sekarang itu. Dia menatap pria di sebelah gadisnya itu dengan tatapan ingin mengjarnya.
Donghae menarik tangan Yoona, Kikwang terkejut dengan kejadian itu. Dia lantas turun dan mengejar Donghae.
Tangan kuat Kikwang menarik tangan Donghae yang memegang pergelangan Yoona, Yoona nampak terkejut. Banyak mata yang mengawasi mereka. Donghae dan Kikwang bukanlah orang sembarangan, mereka petinggi dari perusahaan besar. Bisa-bisa hal ini bisa menyebabkan masalah.
Yoona berusaha menyadarkan mereka berdua yang kini sedang beradu pandangan. Mereka menyadari kebodohan yang mereka lakukan. Kikwang pergi dari tempat itu dengan perasaan marah dihatinya. Bagaimanapun juga ini adalah wilayah  Donghae. Sedangkan Donghae merasa sangat puas karena merasa menang atas kepergian Kikwang.
Donghae menarik Yoona dan membawa gadis itu keatap gedung. Tak ada siapapun disana, hanya mereka.
“kenapa kau bisa bersamanya?” tanya Donghae.
“sepertinya itu bukan urusanmu” jawab Yoona dengan sangat enteng. Gadis itu sangat pintar membuat orang menjadi kesal sepertinya.  “sekarang kau bukan siapa-siapa, kau tak berhak menanyakan hal itu tuan”
“mungkin kau menganggapku bukan siapa-siapa, tapi untukku kau masih orang yang spesial. Kaulah orang yang mengisi hatiku sampai sekarang. tak ada yang mampu menggantikanmu sampai sekarang”
“ah benarkah? Betapa manisnya kata-kata tuan. tapi sayang perlakuan tuan tak semanis kata-kata tuan. Seandainya perlakuan anda semanis perkataan anda. Tentu ini semua tidak akan pernah terjadi” Yoona seolah-seolah menaruh simpati sekaligus menaruh racun disetiap perkataan yang keluar dari mulutnya “bukankah dulu tuan yang mengakhiri semuanya? Apakah tuan sudah lupa? Bukankah tuan memiliki otak yang cerdas? Bagaimana hal itu sanggup tuan lupakan? Saya saja masih dengan mudah mengingat semuanya. Semuanya!” Yoona mengatakannya dengan sangat baik, perkataan itu mampu menusuk hati Donghae. Yoona pergi meninggalkan Donghae yang masih terpaku ditempatnya.
Yoona menoleh dan berbalik arah.
“ah iya aku lupa tuan, apakah tuan masih ingat tentang pelajaran fisika yang tuan terima dulu? Hukum Aksi Reaksi! Setiap perbuatan pasti ada balasannya, sekecil apapun itu! Dan reaksinya juga akan sebanding dengan aksinya. Apa yang tuan lakukan dulu pasti akan mendapat balasannya, mungkin sekarang atau besok pasti akan menerimanya. Ah kenapa dunia ini begitu kejam tapi ini sangat menyenangkan. Aku sangat menikmati hukum alam itu. Ah indahnya hari ini. Sepertinya aku harus kembali bekerja tuan tak baik terlalu lama meninggalkan mejaku, aku disini untuk bekerja bukan untuk bermain. Selamat pagi tuan.  oh ya tuan jangan lama-lama disini ya, tak baik untuk kesehatan tuan. Di sini cukup dingin”
Donghae terdiam ditempatnya, dia tak percaya gadis itu bisa sangat berubah. Gadis itu dulu sangat polos dan tutur katanya mampu menyejukkan hatinya tapi kini tutur kata gadis itu mampu melukai hatinya. Apakah itu semua karenanya? Karena luka yang digoreskannya kepada gadis itu? Apakah luka itu begitu dalam sehingga membuat orang yang begitu hangat berubah menjadi sangat dingin?
 Dia masih mampu mengingat kejadian 5 tahun yang lalu, dimana dia mengakhiri hubungannya  dengan Yoona. Bahkan dia mengakhiri semua itu hanya dengan mengirim SMS, dia tak tau betapa sakit hati Yoona saat itu, gadis itu sangat mencintainya.
Donghae mengakhiri hubungannya dengan Yoona hanya karena dia merasa dia tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh yang begitu menyiksa dengan Yoona. Cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi, hanya waktunya saja. Dan juga, Donghae mendengar semenjak kepergiannya, Yoona menjadi sangat dekat dengan teman laki-lakinya.
Yah seperti bunyi hukum aksi reaksi, ada aksi pasti ada reaksi. Inilah yang diterima Donghae, dulu dia mencampakan Yoona dan membuat gadis itu terluka, kini dia yang harus merasakan luka itu. Adil memang.

**
“Ketika 2 sahabat menjadi kekasih itu sebuah ketulusan. Ketika 2 mantan kekasih menjadi sahabat itu sebuah kedewasaan” kata-kata itu terlontar saja dari mulut Kikwang yang mendapati Yoona terdiam dengan pikiran kosong. Pria itu mengerti apa yang dipikirkan gadis itu. Donghae! Dia dengan jelas dapat melihatnya. Kikwang sudah mengetahui semua perihal hubungan Yoona dan Donghae
Yoona tersenyum lalu menjelaskan perasaanya. Entah kenapa dia merasa nyaman saat berkeluh - kesah dengan Kikwang.
“aku tidak mau perasaanku kembali kacau karenanya. Aku  sungguh membencinya,  hal itu hanya akan membuat lubang dihatiku yang kini sedikit tertutup akan kembali menganga. Emosi yang kini sudah padam pada akhirnya akan kembali berkobar. Aku  tak ingin merasakan sakit itu! Tak ingin! Kau tahu butuh berapa lama aku keluar dari rumah setelah berpisah darinya? 1 bulan! Selama berminggu-minggu aku menangis karenanya, aku sakit karenanya! Tapi apa dia tahu penderitaanku? Apa dia tahu sakit yang aku rasakan? Dia tak tahu apa-apa.
Aku juga kehilangan kepercayaan kepada semua orang karena dia. Kau tahu alasan utamaku sangat membencimu saat kau datang pertama kali kesini? Karena traumaku padanya. Dulu aku orang yang sangat mudah percaya dan menyayangi orang lain tapi semenjak kejadian itu semuanya berubah, untuk mempercayai orang lain begitu sulit dan apalagi untuk menyayangi dan menaruh perhatian pada orang lain. yang ada hanyalah rasa benci. Entah kenapa aku tidak menyukai diriku yang sekarang.
Aku ingin menjadi seperti diriku yang dulu yang mudah mempercayai orang lain dan menyanyi orang lain. dan orang yang sangat mudah sekali tersenyum dan tertawa. Ini menyiksa diriku sendiri. Tapi inilah caraku untuk bertahan. Aku ingin menunjukkan bahwa sekarang aku bukanlah gadis lemah yang mudah disakiti tapi aku adalah gadis kuat dan tangguh”
“kau salah Yoona, kau sama seperti dulu. Kau bukan gadis lemah tapi kau adalah gadis berhati lembut. Lembut dengan lemah itu jauh berbeda. Hatimu masih sama seperti dulu, walaupun aku baru mengenalmu sekarang tapi aku tahu itu. kau hanya ingin menunjukkan bahwa kau gadis yang tak mudah disakiti. Tapi itu salah, itu membuat orang-orang disekitarmu membuat jarak denganmu karena mereka tidak tahu hatimu, karena tampilanmu yang seperti itu.
Terlalu sombong untuk berpikir kau tidak membutuhkan teman dan terlalu naif untuk berpikir semua orang adalah temanmu. Pernahkah kau mendengar pepatah itu? Bagaimanapun juga didalam lubuk hatimu kau menginginkan teman, teman yang selalu ada saat kau membutuhkannya. Kembalilah seperti dulu” jelas Kikwang panjang lebar dengan tatapan lembut menatap ke arah subjek pembicaraan.
“tak bisa! Aku tak bisa seperti dulu, inilah aku! Kau salah telah menilaiku seperti itu” Yoona berdiri dan meninggalkan Kikwang yang masih terdiam. Tak mudah memang membujuk Yoona.
Benar memaafkan bukan hal mudah memang, sesulit apapun itu kita harus mencoba memaafkan orang yang pernah menyakiti kita. Dan marah tidaklah membuat kita melupakan rasa cinta kita terhadapnya, hanya akan menambah luka dihati kita, dan mungkin rasa cinta itu akan semakin besar terhadapnya.
                                                                        **
            
 -------------------------------------------------------------------------------------------------------
terima kasih sudah mau baca, saya tunggu ya komentarnya. terima kasih ^_-~*

11 komentar:

  1. bagus thor, aku suka kata-katanya waktu akhirnya itu....n jga perkataan yoona, kikwang itu pas bgt, bagus bgt! lanjut thor

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya, okay dan terima kasih udah mau baca dan memberikan semangat ^_-~*

      Hapus
  2. bner neh marah tidak akan menyelesaikan mslh...
    d tgg next part nya...
    smgattt

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya makasih udah mau baca sama mau memberikan semangat hehe ^_-~*

      Hapus
  3. Huaa kta"nya manis thor...
    Ditggu next part ne~yoonhaeny diperbnyk lg ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih hehe okay next part kusus buat YH Insyallah. makasih udah mau baca dan memberikan masukan ^_-~*

      Hapus
  4. lanjutttt thor,
    suka bgd ma kta"ny jg alur crita ff ni
    dtunggu next part'a,, jgn lma" ea ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. okay di tunggu aja ya hehe, terima kasih udah mau baca dan memberikan semangat keke ^_-~*

      Hapus
  5. Balasan
    1. iya di tunggu ya, makasih udah mau baca dan memberikan semangat ^_-~*

      Hapus
  6. bagus thor..kata2nya ngasih semangat n motivasi. kayak pencerahan

    BalasHapus